Aug 28 2008
Menjauhi Dunia
Di suatu senja di perbatasan malam. Sepasang kekasih saling bercengkrama. Sang surya menatap dari kejauhan dengan iri. Seraya sesekali mencuri dengar.
Sambil menggenggam erat tangan kekasihnya, sang wanita berbisik lirih di telinga belahan jiwanya,
“Sayang, ada apakah dalam benakmu? Akhir-akhir ini aku merasa jauh darimu?”
“Dinda, mengapa dikau merasa jauh? Bukankah setiap saat aku ada untukmu? Setiap telepon yang berdering darimu selalu aku terima, setiap sms yang datang selalu aku balas, setiap ajakan selalu aku penuhi. Bahkan saat ini aku berada dalam genggaman tanganmu.”
“Benar kanda. Setiap telepon dariku selalu engkau jawab. Setiap sms selalu engkau balas. Kemana ajakanku pun selalu engkau penuhi. Namun setiap kita bercengkerama baik di telepon, sms atau saat kita berjumpa, aku tak lagi merasakan engkau dekat, pikiranmu melanglang buana. Ibarat merindukan rembulan di siang hari. Ragamu boleh di sini tetapi jiwa dan hatimu tak kurasakan lagi hadir di antara kita. Ada apakah gerangan? Adakah bidadari lain yang telah menyapa hatimu? Diam-diam mencuri jiwamu dan membawanya lari? Bukankah sering kau katakan padaku bahwa separuh hatimu ada padaku. Apakah aku masih berhak menyimpannya? Is it mine to keep?”
Sang Pangeran terdiam. Kata-kata kekasihnya ibarat pedang yang menyingkap tirai rahasia yang selama ini ia pendam. Menyingkap kelambu tirai yang menyelimuti cinta terlarangnya. Hanya diam yang hadir di antara mereka. Dan rembulan mengintip di balik awan. Merasakan ada galau di antara keduanya. Dan semilir angin senja membawa lalu keraguan hati.
Apakah yang ada di dekatmu benar-benar berada di depan matamu? Apakah yang jauh tak terlihat benar-benar tak terjangkau? Atau bisakah diputar sebaliknya yang berada di depan matamu sebenarnya berada jauh dan yang jauh dari keberadaanmu selalu berada di dekatmu.
Ibarat dua orang kekasih yang mulai merenggang hubungan antar keduanya. Meskipun selalu bersama, bertemu setiap waktu namun jika tak ada cinta lagi antara keduanya maka hanya fisik yang bertemu dan hati tak lagi beradu. Keduanya merasa jauh.
Demikian pula halnya saat Haritsah berkata pada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah, aku menjauhkan jiwaku dari dunia…” Benarkah dia telah menjauhkan dirinya dari dunia? Dan bagaimanakah cara dia menjauhinya?
Apakah dia pergi mendaki gunung tertinggi dimana tak ada seseorang pun di sana Lalu mencari gua dan meninggalkan harta apa saja yang melekat padanya untuk berpaling dalam sebuah pertapaan?
Apakah dia berenang ke dasar laut terdalam hingga tak ada ikan di sana apalagi emas permata untuk kemudian dia melakukan pencarian hidup?
Ataukah hanya jiwanya yang selalu ia jaga dari nafsu memiliki dunia. Dari hasrat menumpuk harta, dia bersihkan hatinya? Agar selalu dia merasa tenang, karena barang siapa mengetahui Hakekat Allah maka dia akan selalu mencintai-Nya dan mencari cara mendekati-Nya dan barang siapa melihat wajah dunia yang sesungguhnya maka dia akan berlari menjauhinya.
Menjauhi dunia bukanlah berarti mencari sebuah gua di gunung tertinggi dan meninggalkan seluruh harta kita di belakang. Atau mencari palung di lautan terdalam di mana kita jauh dari godaan emas permata.
Menjauhi dunia adalah melepaskan diri dari keinginan untuk memiliki dunia sebagai tujuan akhir. Menjauhi dunia adalah menggunakan harta sebagai sarana mendekati dan beribadah kepada-Nya. Karena tanpa harta di tangan kita bagaimana kita bisa memberi. Tanpa kuasa sebagai wewenang kita bagaimana kita bisa menolong yang lemah. Tapi jika Tuhan mengatakan itu bukan bagian kita. Bukan jatah kita menjadi kaya raya. Karena tak semua orang harus kaya harta. Maka dengan senyum ikhlas, kita tetap memberi apa yang kita bisa. Dengan tenaga, dengan pikiran bahkan dengan senyum sekali pun.
Terkadang sepotong senyum dan perkataan yang baik bisa menenangkan hati orang lain sehingga mereka terbebas dari amarah dan bisa bekerja dan beribadah lebih tenang.
Jauhilah jiwamu dari [keinginan untuk memiliki yang berlebihan sehingga akhirnya diperbudak oleh] dunia. Karena sesungguhnya yang berada di dunia tak pernah berumur lama. Hanya sepanjang nafas ragamu. Selama degup jantungmu. Tak pernah lebih.



