Aug 28 2008

Menjauhi Dunia

Published by wisnhu at 12:34 am under Catatan Perjalanan

Di suatu senja di perbatasan malam. Sepasang kekasih saling bercengkrama. Sang surya menatap dari kejauhan dengan iri. Seraya sesekali mencuri dengar.
Sambil menggenggam erat tangan kekasihnya, sang wanita berbisik lirih di telinga belahan jiwanya,
“Sayang, ada apakah dalam benakmu? Akhir-akhir ini aku merasa jauh darimu?”
“Dinda, mengapa dikau merasa jauh? Bukankah setiap saat aku ada untukmu? Setiap telepon yang berdering darimu selalu aku terima, setiap sms yang datang selalu aku balas, setiap ajakan selalu aku penuhi. Bahkan saat ini aku berada dalam genggaman tanganmu.”
“Benar kanda. Setiap telepon dariku selalu engkau jawab. Setiap sms selalu engkau balas. Kemana ajakanku pun selalu engkau penuhi. Namun setiap kita bercengkerama baik di telepon, sms atau saat kita berjumpa, aku tak lagi merasakan engkau dekat, pikiranmu melanglang buana. Ibarat merindukan rembulan di siang hari. Ragamu boleh di sini tetapi jiwa dan hatimu tak kurasakan lagi hadir di antara kita. Ada apakah gerangan? Adakah bidadari lain yang telah menyapa hatimu? Diam-diam mencuri jiwamu dan membawanya lari? Bukankah sering kau katakan padaku bahwa separuh hatimu ada padaku. Apakah aku masih berhak menyimpannya? Is it mine to keep?”

Sang Pangeran terdiam. Kata-kata kekasihnya ibarat pedang yang menyingkap tirai rahasia yang selama ini ia pendam. Menyingkap kelambu tirai yang menyelimuti cinta terlarangnya. Hanya diam yang hadir di antara mereka. Dan rembulan mengintip di balik awan. Merasakan ada galau di antara keduanya. Dan semilir angin senja membawa lalu keraguan hati.
Apakah yang ada di dekatmu benar-benar berada di depan matamu? Apakah yang jauh tak terlihat benar-benar tak terjangkau? Atau bisakah diputar sebaliknya yang berada di depan matamu sebenarnya berada jauh dan yang jauh dari keberadaanmu selalu berada di dekatmu.
Ibarat dua orang kekasih yang mulai merenggang hubungan antar keduanya. Meskipun selalu bersama, bertemu setiap waktu namun jika tak ada cinta lagi antara keduanya maka hanya fisik yang bertemu dan hati tak lagi beradu. Keduanya merasa jauh.
Demikian pula halnya saat Haritsah berkata pada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah, aku menjauhkan jiwaku dari dunia…” Benarkah dia telah menjauhkan dirinya dari dunia? Dan bagaimanakah cara dia menjauhinya?
Apakah dia pergi mendaki gunung tertinggi dimana tak ada seseorang pun di sana Lalu mencari gua dan meninggalkan harta apa saja yang melekat padanya untuk berpaling dalam sebuah pertapaan?
Apakah dia berenang ke dasar laut terdalam hingga tak ada ikan di sana apalagi emas permata untuk kemudian dia melakukan pencarian hidup?
Ataukah hanya jiwanya yang selalu ia jaga dari nafsu memiliki dunia. Dari hasrat menumpuk harta, dia bersihkan hatinya? Agar selalu dia merasa tenang, karena barang siapa mengetahui Hakekat Allah maka dia akan selalu mencintai-Nya dan mencari cara mendekati-Nya dan barang siapa melihat wajah dunia yang sesungguhnya maka dia akan berlari menjauhinya.
Menjauhi dunia bukanlah berarti mencari sebuah gua di gunung tertinggi dan meninggalkan seluruh harta kita di belakang. Atau mencari palung di lautan terdalam di mana kita jauh dari godaan emas permata.
Menjauhi dunia adalah melepaskan diri dari keinginan untuk memiliki dunia sebagai tujuan akhir. Menjauhi dunia adalah menggunakan harta sebagai sarana mendekati dan beribadah kepada-Nya. Karena tanpa harta di tangan kita bagaimana kita bisa memberi. Tanpa kuasa sebagai wewenang kita bagaimana kita bisa menolong yang lemah. Tapi jika Tuhan mengatakan itu bukan bagian kita. Bukan jatah kita menjadi kaya raya. Karena tak semua orang harus kaya harta. Maka dengan senyum ikhlas, kita tetap memberi apa yang kita bisa. Dengan tenaga, dengan pikiran bahkan dengan senyum sekali pun.
Terkadang sepotong senyum dan perkataan yang baik bisa menenangkan hati orang lain sehingga mereka terbebas dari amarah dan bisa bekerja dan beribadah lebih tenang.
Jauhilah jiwamu dari [keinginan untuk memiliki yang berlebihan sehingga akhirnya diperbudak oleh] dunia. Karena sesungguhnya yang berada di dunia tak pernah berumur lama. Hanya sepanjang nafas ragamu. Selama degup jantungmu. Tak pernah lebih.

18 Responses to “Menjauhi Dunia”

  1. nitaon 28 Aug 2008 at 2:58 am

    intinya hiduplah dalam keseimbangan, dunia-akhirat, keduanya adalah berkat yg diberi YME

  2. ranggaon 28 Aug 2008 at 9:22 am

    permisiii… numpang liwat…

    aduh.. sungguh sebuah artikel (sangat panjang) yang menggugah.. hehehe..

    ehm.. ini ada kaitannya dengan bulan Ramadhan yang mau datang ya mas?

  3. ninaon 28 Aug 2008 at 11:29 am

    bettul banget jangan sampai diperbudak keinginan duniawi,hanya YME yg tau apa dan seberapa yg pantas kita dapat di dunia ini..

  4. wisnhuon 28 Aug 2008 at 11:39 pm

    @ nita : keseimbangan bisa dianggap bahwa dunia dan akhirat adalah dua hal dan tujuan yang berbeda. Mungkin akan lain jika kita memandang sebagai dua hal namun satu tujuan. Contohnya kita menggunakan dunia untuk mencapai akhirat yang lebih baik.
    @ rangga : wah betul mas rangga lama tak bersua apa kabar?
    @ nina : betul mbak kita hanya bertugas berusaha dengan sungguh-sungguh menghadapNya dan dia yang menentukan jalan kita.
    @ semua : maaf artikel ini kurang komersial.

  5. khaion 29 Aug 2008 at 3:12 pm

    Berat ini artikel….
    Lom bisa masuk otak gw Wish… :D

  6. januon 29 Aug 2008 at 6:23 pm

    semoga aku bisa…

  7. trendyon 29 Aug 2008 at 8:12 pm

    keren..kerenn!
    minta ijin copy artikelnya ya!
    hiiihihih

  8. emfajaron 30 Aug 2008 at 6:50 am

    kereeennn,, memiliki arti yang dalam..

  9. ma2nn-smileon 30 Aug 2008 at 2:47 pm

    aq imbangin aja biar gak salah tingkah…
    keep smile aja deh…kan senin besok udah puasa…

  10. myseptyon 31 Aug 2008 at 5:30 pm

    hemmmm….. semoga puasa besok aku lebih baik :)

  11. bowbeeon 01 Sep 2008 at 12:19 am

    ‘Terkadang sepotong senyum dan perkataan yang baik bisa menenangkan hati orang lain’

    Sip. Setuju banget dengan yang ini, karena sering terjadi padaku yang selalu terhibur oleh keberadaan teman.

  12. khaion 01 Sep 2008 at 1:42 am

    Intinya Zuhud

  13. Dimason 01 Sep 2008 at 7:35 am

    huhuhu… artikelnya bagus, dalem banget, so inspiring wis! :)

  14. Wisnhuon 01 Sep 2008 at 10:23 am

    @ khai : meskipun awalnya berat akhirnya khai bisa memahami. padahal saya masih susah memahami.
    @ janu : Mari berdoa bersama mas janu semoga kita bisa.
    @ Trendy : silakan diperbanyak jg gak papa.
    @ emfajar : meskipun dalam semoga kita masih bisa kembali ke permukaan.
    @ mann2-smile : selamat menunaikan ibadah puasa mas.
    @ mysepty : Amien.
    @ bowbee : sama saya juga sering terhibur.
    @ dimas : Alhamdulillah.

  15. wi3ndon 02 Sep 2008 at 1:21 pm

    seandainya…akh semo9a sajah…

  16. Wisnhuon 02 Sep 2008 at 3:45 pm

    @ wi3nd : Amien

  17. latreeon 04 Sep 2008 at 5:34 am

    kalo pergi menyepi, mungkin memang lebih mudah menjauhi dunia, karena godaanya tidak di depan mata. tapi dengan semua yang ingin dijauhi itu ada di depan mata, bisa ketauan sekuat apa kita…

    semoga bisa, tidak diperbudak dunia.
    *susah banget deh!*

  18. Wisnhuon 04 Sep 2008 at 7:49 am

    @ latree : bener mbak dijamin susyah.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Reply