Sep
12
2008
Pernahkah Anda mendengar tentang mesin waktu? Sebuah alat yang mampu membawa kita berkelana melewati batasan ruang dan waktu. Bisa meloncat ke masa depan atau pun kembali jauh ke masa silam. Nah, jika Anda pernah mendengarnya kini izinkan saya untuk mengajak Anda berkelana kembali jauh ke masa lampau. Masa dimana bumi masih muda dan manusia masih tinggal di dalam gua. Apa yang kita cari di sana? Kita tidak mencari apa-apa. Kita hanya akan mengajak salah satu rekan kita dari masa tersebut untuk berjalan-jalan bersama kita.
Iya, kita akan mengajak rekan kita itu yang kita sebut sang manusia gua untuk hadir di rumah kita. Kita ajak dia untuk berkelana di masa kini. Melihat rumah kita, merasakan hidup di lingkungan kita, menikmati alam sekitar kita dan bahkan kita ajak menemui anak-anak kita. Kita ajak dia berkeliling selama beberapa hari. Lalu setelah itu kita ajak dia untuk mengungkapkan perasaannya. Caranya adalah meminta dia untuk mendeskripsikan lingkungan kita yang ada saat ini dalam bahasa dan pengetahuan yang dia ketahui.
Maka hasilnya tidak akan jauh dari hasil berikut. Kita simak beberapa contohnya : TV –> batu bergambar. Rumah –> gua indah. Pesawat –> burung besi. Mobil –> kuda keras tanpa kaki. Radio –> kotak para arwah.
Sesuatu hal yang menutut kita aneh bin lucu. Sesuatu yang sangat menggelitik karena semua hal yang ada pada zaman kita untuk pikiran dan nalar kita adalah wajar namun bagi mereka hal ini adalah sesuatu yang menakjubkan sesuatu yang luar biasa. Mereka akan menganggap hal-hal yang mereka alami barusan sebagai suatu hal yang “tak pernah terdengar oleh telinga mereka, tak pernah terlihat oleh mata mereka dan tak pernah terbersit sedikitpun di pikiran mereka.” They say it’s beyond their wildest imagination.
Hal kedua yang saya ingin ajak bersama Anda setelah perjalanan pertama tadi adalah untuk membayangkan bagaimana jika suatu hari kita mendapat hadiah sebuah kuis dari antah berantah. Sebuah hadiah yang luar biasa pula yang memungkinkan kita melakukan perjalanan ke surga pulang pergi. Menginap beberapa hari di sana. Menikmati indahnya nuansa surga yang tersaji indah penuh warna. Ya, anggaplah dapat voucher pula menginap tiga hari tiga malam. Setelah akhir dari perjalanan tadi mau tidak mau kita akan dikirim lagi ke sini. Kemudian kembali lagi ke sini. Sepulangnya dari sana kira-kira apa yang bisa kita ungkap untuk mendeskripsikan surga dari sudut pandang kita. Mari kita coba ekspresikan pengalaman kita tersebut dalam bahasa yang kita kenal.
Tentunya ekspresi yang akan muncul dari kita tak akan jauh berbeda dengan apa yang pernah dideskripsikan tentang surga dalam AlQuran Al Karim. Yakni sebuah tempat dimana surga akan dipenuhi istana dengan sungai-sungai mengalir di bawahnya dan dengan ditumbuhi berbagai macam-macam buah-buahan yang mengundang selera. Tidak itu pula di sana kita juga akan didampingi oleh bidadari-bidadari yang tak pernah urung menemani kita.
Yang menjadi pertanyaan adalah apakah saat kita deskripsikan mengenai istana, sungai, dan buah-buahan serta bidadari-bidadari yang ada di surga itu sama dengan deskripsi yang sekarang ada di dunia. Apakah bentuk istana di surga sama dengan istana termegah di dunia yang pernah dibangun oleh manusia? Apakah bentuk sungai-sungai yang mengalir di bawahnya dan buah yang tumbuh di dalamnya akan sama seperti yang ada di dunia? Apakah bentuk itu sama seperti bentukan yang pernah kita lihat dengan mata, kita dengar dengan telinga ataupun pernah terbersit dalam pikiran kita?
Tentu saja akan sangat berbeda. Istana yang ada di surga tentu akan sangat berbeda dengan istana yang pernah kita lihat. Sungai-sungai yang ada di sana tentu akan sangat berbeda dengan apa yang pernah kita dengar akan sungai yang penuh keindahannya di dunia ini. Serta kecantikan bidadari-bidadari yang ada di surga tentu jauh lebih cantik dari para gadis pemenang model kecantikan yang ada saat ini. Bahkan bisa jadi bentukan dasarnya saja sudah sangat berbeda. Namun kita hanya mampu mendeskripsikan dengan bentuk yang hampir serupa dengan istana, sungai, buah-buahan dan segala macam yang kita jumpai sekarang.
Mungkin kasus yang terjadi pada perjalanan kedua kita hampir sama dengan hal yang terjadi pada sang manusia gua saat kehadirannya berpetualang di dunia kita. Hal-hal yang ditemui akan sangat berbeda dan luar biasa. Sesuatu yang ditemui benar-benar tak pernah terdengar oleh telinga, terlihat oleh mata dan tak pernah terbersit di benak pikiran kita.
Berbagi
Aug
28
2008
Di suatu senja di perbatasan malam. Sepasang kekasih saling bercengkrama. Sang surya menatap dari kejauhan dengan iri. Seraya sesekali mencuri dengar.
Sambil menggenggam erat tangan kekasihnya, sang wanita berbisik lirih di telinga belahan jiwanya,
“Sayang, ada apakah dalam benakmu? Akhir-akhir ini aku merasa jauh darimu?”
“Dinda, mengapa dikau merasa jauh? Bukankah setiap saat aku ada untukmu? Setiap telepon yang berdering darimu selalu aku terima, setiap sms yang datang selalu aku balas, setiap ajakan selalu aku penuhi. Bahkan saat ini aku berada dalam genggaman tanganmu.”
“Benar kanda. Setiap telepon dariku selalu engkau jawab. Setiap sms selalu engkau balas. Kemana ajakanku pun selalu engkau penuhi. Namun setiap kita bercengkerama baik di telepon, sms atau saat kita berjumpa, aku tak lagi merasakan engkau dekat, pikiranmu melanglang buana. Ibarat merindukan rembulan di siang hari. Ragamu boleh di sini tetapi jiwa dan hatimu tak kurasakan lagi hadir di antara kita. Ada apakah gerangan? Adakah bidadari lain yang telah menyapa hatimu? Diam-diam mencuri jiwamu dan membawanya lari? Bukankah sering kau katakan padaku bahwa separuh hatimu ada padaku. Apakah aku masih berhak menyimpannya? Is it mine to keep?”
Sang Pangeran terdiam. Kata-kata kekasihnya ibarat pedang yang menyingkap tirai rahasia yang selama ini ia pendam. Menyingkap kelambu tirai yang menyelimuti cinta terlarangnya. Hanya diam yang hadir di antara mereka. Dan rembulan mengintip di balik awan. Merasakan ada galau di antara keduanya. Dan semilir angin senja membawa lalu keraguan hati.
Apakah yang ada di dekatmu benar-benar berada di depan matamu? Apakah yang jauh tak terlihat benar-benar tak terjangkau? Atau bisakah diputar sebaliknya yang berada di depan matamu sebenarnya berada jauh dan yang jauh dari keberadaanmu selalu berada di dekatmu.
Ibarat dua orang kekasih yang mulai merenggang hubungan antar keduanya. Meskipun selalu bersama, bertemu setiap waktu namun jika tak ada cinta lagi antara keduanya maka hanya fisik yang bertemu dan hati tak lagi beradu. Keduanya merasa jauh.
Demikian pula halnya saat Haritsah berkata pada Rasulullah,
“Wahai Rasulullah, aku menjauhkan jiwaku dari dunia…” Benarkah dia telah menjauhkan dirinya dari dunia? Dan bagaimanakah cara dia menjauhinya?
Apakah dia pergi mendaki gunung tertinggi dimana tak ada seseorang pun di sana Lalu mencari gua dan meninggalkan harta apa saja yang melekat padanya untuk berpaling dalam sebuah pertapaan?
Apakah dia berenang ke dasar laut terdalam hingga tak ada ikan di sana apalagi emas permata untuk kemudian dia melakukan pencarian hidup?
Ataukah hanya jiwanya yang selalu ia jaga dari nafsu memiliki dunia. Dari hasrat menumpuk harta, dia bersihkan hatinya? Agar selalu dia merasa tenang, karena barang siapa mengetahui Hakekat Allah maka dia akan selalu mencintai-Nya dan mencari cara mendekati-Nya dan barang siapa melihat wajah dunia yang sesungguhnya maka dia akan berlari menjauhinya.
Menjauhi dunia bukanlah berarti mencari sebuah gua di gunung tertinggi dan meninggalkan seluruh harta kita di belakang. Atau mencari palung di lautan terdalam di mana kita jauh dari godaan emas permata.
Menjauhi dunia adalah melepaskan diri dari keinginan untuk memiliki dunia sebagai tujuan akhir. Menjauhi dunia adalah menggunakan harta sebagai sarana mendekati dan beribadah kepada-Nya. Karena tanpa harta di tangan kita bagaimana kita bisa memberi. Tanpa kuasa sebagai wewenang kita bagaimana kita bisa menolong yang lemah. Tapi jika Tuhan mengatakan itu bukan bagian kita. Bukan jatah kita menjadi kaya raya. Karena tak semua orang harus kaya harta. Maka dengan senyum ikhlas, kita tetap memberi apa yang kita bisa. Dengan tenaga, dengan pikiran bahkan dengan senyum sekali pun.
Terkadang sepotong senyum dan perkataan yang baik bisa menenangkan hati orang lain sehingga mereka terbebas dari amarah dan bisa bekerja dan beribadah lebih tenang.
Jauhilah jiwamu dari [keinginan untuk memiliki yang berlebihan sehingga akhirnya diperbudak oleh] dunia. Karena sesungguhnya yang berada di dunia tak pernah berumur lama. Hanya sepanjang nafas ragamu. Selama degup jantungmu. Tak pernah lebih.
Berbagi
Aug
12
2008
Kanak-kanak yang dewasa.

Sebenarnya tidak ada yang lebih baik di antara kedua sifat itu. Tidak ada yang lebih superior dari keduanya. Ibaratnya apakah bisa dikatakan kalau malam itu lebih baik dari siang atau sebaliknya. Apakah bisa juga dikatakan bahwa perempuan lebih baik dari laki-laki atau sebaliknya. Kalau tidak ada laki-laki tentunya tidak akan ada perempuan dan kalau tidak ada perempuan tentu tidak akan ada laki-laki selanjutnya. Sama halnya dengan dewasa dan kanak-kanak. Dewasa tidak lebih baik dari kanak-kanak dan kanak-kanak pun tidak lebih baik dari kedewasaan.
Meskipun secara sekilas sifat kedewasaan lebih baik dari kanak-kanak tapi sifat kedewasaan yang terus menerus dipaksakan akan sangat menghabiskan tenaga dan melelahkan. Mengapa demikian? Karena sifat dewasa mempertimbangkan sangat banyak hal dan faktor untuk kepentingan banyak pihak. Sebisa mungkin semua pihak dan kepentingan yang ada di dalamnya dipuaskan. Akan sangat melelahkan. Membayangkannya saja sudah menyita banyak energi. Tak heran jika banyak orang dewasa atau orang yang mengaku dewasa stres. Dan saat mereka stres, sadar atau tidak, seringkali tindakan mereka akan lebih seperti anak kecil daripada seorang dewasa. Mengutamakan kepuasannya dan tidak mempedulikan orang lain.
Menjadi seorang anak kecil lebih melegakan karena tidak banyak hal yang dia pikirkan. Tidak banyak kepentingan yang dipertimbangkan. Menjadi apa adanya tanpa begitu mempedulikan pendapat orang lain. Memang terkesan sangat cuek dan egois tapi memang tak semua kondisi dan masalah harus dihadapi dengan terlalu serius. Bukan berarti meremehkan tapi menempatkan segala sesuatu pada tempatnya dan tidak diperlakukan berlebihan dan berkekurangan. Karena semua yang berlebihan itu tidak baik.
So apa yang harus kita lakukan? Jadilah apa yang diperlukan dan dimana ditempatkan. Jangan berlebihan dan jangan terlalu berkekurangan. Jangan dihindari namun jangan terlalu dipaksakan. Meskipun sudah menjadi orang yang berumur tidak ada salahnya sesekali waktu menempatkan diri sebagai seorang anak kecil dan bebaskan diri dan jiwa Anda sesaat. Karena pada dasarnya semua orang ingin dimanja, dihargai dan diperhatikan. Atau pun saat menjadi anak kecil, ajarilah dia menjadi dewasa tapi tanpa perlu terlalu memaksakan. Ajari perlahan dan berulang-ulang karena pembelajaran hidup adalah proses perulangan.
Hal lain yang bisa dilakukan dalam menjalani kehidupan dewasa yang tidak terlalu melelahkan khususnya dalam menyelesaikan masalah adalah dengan melakukan pembatasan hal-hal yang perlu dipikirkan dan kemudian dari hal yang sedikit itu dilakukan proses prioritasisasi sehingga didapat hal yang paling penting yang perlu diutamakan.
Cerita sebelumnya :
Kanak-kanak dan Kedewasaan (bag. 1/3)
Kanak-kanak dan Kedewasaan (bag. 2/3)
Berbagi